Membuat Karya Tulis Ilmiah Tentang Penyusunan Peneltitan Tindakan Kelas

Kamis, 21 Oktober 2010
Langkah-Langkah Penyusunan Penelitian Tindakan Kelas

Sedikitnya 342.000 dari 2,7 juta guru di Indonesia gagal menembus golongan kepangkatan IVB karena mengalami kesulitan dalam membuat karya tulis ilmiah.
Mengapa guru kesulitan membuat karya tulis ilmiah? Padahal dalam melaksanakan tugasnya, guru memiliki banyak peluang yang bisa diteliti berkaitan dengan kegiatan belajar-mengajar (KBM) di sekolah. Begitu banyak permasalahan yang dihadapi guru dalam proses KBM itu, sehingga, tanpa disadari, sudah sedemikian banyak masalah yang dapat diatasi. Materi pelajaran dapat disampaikan dengan baik, sesuai dengan tujuan, sementara siswa pun dapat menerima pelajaran dengan memuaskan.
Banyak pendekatan, teknik, metode, dan strategi pembelajaran inovatif yang bisa dilakukan guru, yang dapat dijadikan karya tulis. Salah satu bentuk karya tulis dalam bidang pendidikan, khususnya kegiatan pembelajaran adalah penelitian tindakan kelas (PTK) atau classroom action research.
Menurut Tatang Sunendar (widyaiswara LPMP), PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas. Dengan melaksanakan tahap-tahap PTK, guru dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri, dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara kreatif. PTK merupakan penelitian terapan, guru dapat melaksanakan tugas utamanya mengajar di kelas, tanpa perlu meninggalkan siswanya. PTK bisa mengangkat masalah-masalah aktual yang dihadapi guru di lapangan.
Tahap PTK yang bisa dilakukan,
pertama, tahapan pra-PTK yang meliputi identifikasi masalah, analisis masalah, dan rumusan masalah, rumusan hipotesis tindakan. Tahapan pra-PTK ini sesugguhnya suatu refleksi guru terhadap permasalahan yang ada di kelasnya, yang merupakan masalah umum yang bersifat klasikal, misalnya kurangnya motivasi belajar di kelas, rendahnya kualitas daya serap klasikal, dan yang lainnya.
Kedua, perencanaan tindakan disusun untuk menguji secara empiris hipotesis tindakan yang ditentukan dengan mempersiapkan materi/bahan ajar, rencana pengajaran yang mencakup metode/teknik mengajar, serta teknik atau instrumen observasi dan evaluasi yang akan digunakan.
Ketiga, tahap pelaksanaan tindakan yang merupakan implementasi dari semua rencana yang dibuat. Tahap yang berlangsung di dalam kelas ini adalah realisasi dari segala teori pendidikan dan teknik mengajar yang telah disiapkan sebelumnya, dengan mengacu kepada kurikulum yang berlaku. Hasilnya diharapkan berupa peningkatan efektivitas keterlibatan kolaborator untuk membantu mempertajam refleksi dan evaluasi yang dilakukan melalui pengamatan, dan teori pembelajaran yang dikuasai dan relevan.
Keempat, tahap pengamatan tindakan dilakukan dengan observasi melalui alat bantu instrumen pengamatan yang dikembangkan peneliti. Hal itu untuk mengumpulkan data tentang pelaksanaan tindakan dan rencana yang sudah dibuat.
Kelima, tahap refleksi terhadap tindakan untuk memproses data yang didapat saat melakukan pengamatan. Data yang didapat kemudian ditafsirkan, dianalisis, dan disintesis.
Tahapan tersebut akan membentuk sebuah siklus dan siklus tersebut bisa diulang-ulang dengan perbaikan-perbaikan yang diperlukan sampai peneliti merasa puas terhadap hasil yang dicapai dalam suatu kegiatan PTK yang dilakukan.
Penerapan PTK dalam pendidikan dan pembelajaran memiliki tujuan memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktik pembelajaran secara berkesinambungan sehingga meningkatkan mutu hasil instruksional, mengembangkan keterampilan guru, meningkatkan relevansi, meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru. Agar guru dapat memahami, menguasai, dan menerapkan KTSP dengan jelas, mereka dapat membaca buku-buku PTK dan buku-buku penelitian yang lainnya.




Siswa dengan Gaya Belajar Auditorial (bagaimana menghadapinya..???)

3 09 2008
Hmm… setiap guru, ketika mengajar di dalam kelas, pasti dihadapkan pada puluhan siswa dengan karakter yang kompleks, tidak hanya itu, cara belajar mereka pun bermacam-macam. Sebut saja, ada yang banyak berbicara, ada pula yang suka menonton saja atau ada pula yang lebih suka berjalan-jalan dalam kelas daripada duduk dan memperhatikan.

Mungkin perilaku tersebut dikarenakan cara belajar mereka. Tiap guru mestinya memperhatikan bagaimana cara belajar siswanya. Berikut salah satu cara atau gaya belajar siswa yaitu Belajar Auditorial, Wilujeng Nyakseni… J

Belajar Auditorial adalah sebuah gaya belajar seseorang yang lebih efektif dengan cara mendengarkan informasi yang didengar yang disampaikan secara lisan. Seperti dalam pidato, ceramah maupun pembicaraan lain. Pelajar Auditorial sering menggunakan kata-kata atau ujaran seperti “Kedengarannya bagus” atau “ding dong” ketika menemukan sebuah penyelesaian. Mereka (pelajar Auditorial) akan lebih fokus pada apa yang ia dengar atau apa yang orang bicarakan.

Ketika seorang pelajar Auditorial sedang membaca, sangat sulit baginya untuk fokus atau berkonsentrasi pada sebuah bacaan tanpa sesuatu suara mengiringinya. Dalam situasi ini, pelajar Auditorial, sangat nyaman baginya bekerja sambil mendengarkan musik atau mendengarkan suara di belakangnya (suara TV, orang mengobrol, dll) Gaya belajar Auditorial merupakan salah satu cara belajar sebagian siswa, sebagian lagi adalah pelajar visual, dan sebagian lagi pelajar.

Sehingga dapat dijelaskan bahwa belajar auditorial adalah gaya belajar seseorang yang mengandalkan pendengaran dan pembicaraan sebagai cara utama belajarnya. Pelajar auditorial harus mendengar jelas untuk dapat memahami informasi, dan sebaliknya akan sangat sulit baginya untuk memahami instruksi tertulis. Mereka kerap kali menggunakan kemampuan hearing skills (mendengar) dan repeating skills (pengulangan) untuk memilah-pilah informasi yang diberikan.

Karakteristik Pelajar Auditorial:
  1. Baik dalam bercerita
  2. Biasanya bawel
  3. Menyelesaikan masalah dengan argumentasi
  4. Memiliki banyak perbendaharaan celotehan, seperti “dengerin dong”, “iya, aku dengar
  5. Menggerakkan bibir atau berbicara dengan dirinya sendiri ketika fokus menyelesaikan tugas.

Bagaimana mengajar para Auditorial..???
Hmm… di dalam kelas memang dihadapkan pada karakteristik siswa yang kompleks. Tetapi untuk mengajar siswa auditorial adalah mendengarkan kuliah, contoh dan cerita serta mengulang informasi adalah cara yang mereka sukai. Para auditorial mungkin lebih memilih merekam suara mereka daripada mencatat. Itu karena mereka suka mendengarkan informasi berulang-ulang.
Mereka mungkin meminta guru untuk mengulang materi yang diberikan, mereka tentu saja menyimak, tetapi mereka suka mendengarkannya lagi. Jika anda (guru atau orang tua) melihat mereka mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas, bantulah mereka berbicara pada diri sendiri untuk memahaminya (konyol memang, tapi anda dapat mencobanya).

Pelajar auditorial lebih suka menyelesaikan tugas atau  pe er sambil mendengarkan musik, sementara siswa lainnya akan merasa terganggu dengan hal itu. Di luar negeri bahkan menyediakan sound system di ruang kelasnya sebagai pembantu konsentrasi pembelajaran. (Di Indonesia ada gak yah..?)

Para guru dapat membuat materi dan hapalan menjadi sebuah lagu dengan melodi yang sudah dikenal baik. Misal ubahlah lirik lagu “balonku” menjadi nama-nama Propinsi atau yang lainnya.
Masih terdapat dua jenis cara belajar siswa, yaitu Pelajar Visual dan Pelajar Kinestetik. Mudah-mudahan dibahas pada posting  selanjutnya. Semoga bermanfaat.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

0 komentar:

Posting Komentar